Syari’ah Marketing dalam
buku ini disebutkan menjadi pandangan baru perspektif pemasaran.
Pemasaran dengan hadirnya produk yang bernuansa syari’ah menghidupkan
kembali proses pemasaran dari era rasional ke emosional bahkan ke
spiritual. Era rasional tidak diartikan sebagai pasar konvensional
seperti dipandang kebanyakan orang, dalam era ini pemasaran masih
dipandang sebagai benda mati seperti robot yang mengandalkan kekuatan
logika dan konsep-konsep keilmuan, menyikapi pemasaran secara
fungsional-teknikal dengan menggunakan sejumlah tools pemasaran.
kemudian di era emosional dijelaskan juga bukan karena permainan emosi
keagamaan yang diunggulkan, tapi era emosional dimana pemasar perlu
memahami emosi dan perasaan pelanggan. Melihat pelanggan sebagai manusia
utuh, lengkap dengan emosi dan perasaannya. Sedangkan di level
spiritual pemasaran lebih bekerja dan memiliki ruh yang membuat hidup
seluruh komponen perusahaan, karena pemasaran disikapi sebagai “bisikan
nurani” dan”panggilan jiwa”(calling) untuk berbuat yang lebih baik.
Pemahaman
dasar inilah, yang menjadi pondasi terdalam dalam proses pemasaran,
dimana fungsi pemasaran dibuat lebih hidup. Pemasaran tidak sekedar
memperhitungkan untung rugi, atau hal yang bersifat kebendaan dan
duniawi, tapi lebih sebagai tugas dan kewajiban panggilan hati nurani
untuk menyampaikan kebenaran dan kejujuran pada orang lain, dimana
seluruh proses yang terkait dengannya tidak ada yang bertentangan dengan
prinsip-prinsip muamalah (syari’ah) bahkan ia mengandung nilai ibadah,
yang menjadikan pemasaran spiritual memiliki kedudukan tertinggi dalam
pemasaran. Spiritual marketing dijadikan sebagai jiwa bisnis, dijadikan
sebagai prinsip yang harusnya terus tertanam, tertancap dalam pribadi
masing-masing pelaku bisnis. Disinilah, pemasaran lebih berfungsi untuk
mengarahkan seluruh proses penciptaan, dan penawaran atas produk barang
ataupun jasa.
Jiwa itulah yang diturunkan menjadi sebuah
karakteristik dari syari’ah marketing yaitu : 1).Teistis (Rabbaniyah)
yang mana seorang syari’ah marketer menyakini bahwa hukum syari’at
adalah hukum yang paling adil, menyakini bahwa Allah swt. Selalu dekat
dan mengawasinya segala apapun dan dimanapun bisnis dilakukan, dan
menyadari bahwa segala yang dilakukan akan diminta pertanggungjawabanya
sekecil apapun perbuatanya. 2). Etis (Akhlaqiyyah), merupakan turunan
dari sifat teistis (rabbaniyah), bahwa syari’ah marketing adalah konsep
pemasaran yang mengedepankan etika, nilai-nilai moral dan nilai
keagamaan.3).Realistis (waqi’iyyah) merupakan turunan dari nilai-nilai
keagamaan yang memegang prinsip bahwa dalam hal ibadah segala hal yang
ada dilarang kecuali ada dalil yang menganjurkannya, sedangkan dalam hal
muamalah bahwa segala hal yang ada dibolehkan kecuali ada dalil yang
melarangnya. Sebuah ciri fleksibilitas dan kelonggaran yang luas dalam
islam, sehingga hal ini bisa direalisasikan. Selain itu bahwa prinsip
realistis harus menyampaikan produk dengan benar dan
konsisten.4).prinsip yang terakhir adalah humanistis, bahwa syari’ah
diciptakan untuk mengangkat derajat manusia, menjaga dan memelihara
sifat kemanusiaanya dengan panduan syari’ah sesuai tujuan syaria’ah.
Memandang bahwa seluruh manusia adalah sama tanpa membedakan suku, ras,
dan agama. Karakteristik diataslah yang telah diimplementasikan oleh
Rosulullah saw, dengan segala kejujuran yang dimilikinya dalam
menyampaikan kebenaran, sehingga ia memiliki brand sebagai “Al-Amin
(orang yang terpercaya), karena produk apa yang tidak laku dijual jika
sudah memiliki kepercayaan dari pelanggannya? Itulah, hal yang
disampaikan oleh Sakir Sula pada bagian awal buku memandang pemasaran
dari sisi religius.
Di bab selanjutnya pakar pemasaran Hermawan
Kertajaya memperjelas kembali syariah marketing dengan langkah yang
lebih implementatif yang bisa diterapkan dalam sebuah perusahaan,
mengawali penjelasanya dengan SME (sustainable Marketing Enterprise)
model, bahwa perusahaan apapun pasti mengalami hidup layaknya manusia,
ia muncul, berdiri, tumbuh, berkembang dan menurun sehingga hanya
perusahaan yang mampu mempertahankan loop-nya secara kontinyulah yang
dapat bertahan hidup. Lalu dilanjutkan dengan pengertian enterprise
sebagai komponen inspirasi, kultur, dan institusi dari sebuah
perusahaan.
Inspirasi menyangkut sebuah mimpi (dream), kultur
menyangkut kepribadian (personality), dan institusi menyangkut
aktivitas. Mimpi yang menjadi driver bagi perusahaan, memiliki budaya
yang berbasis syari’ah, dan nilai-nilai islami dan segala aktivitas yang
mengimplementasikan prinsip-prinsip syari’ah. Dan untuk menjaga itu
semua diperlukan 17 prinsip syari’ah marketing untuk menuju perusahaan
berbasis syari’ah.
1. information technology allows us to be transparent (Change)
2. be respectful to your competitors (Competitor)
3. the emergence of customers global paradox (Customer)
4. develop a spiritual-based organization (Company)
5. view market universally (Segmentation)
6. Target customer’s heart and soul (Targeting)
7. Built a belief system (positioning)
8. Differ yourself with a good package of content and context (differentiation)
9. Be honest with your 4 Ps (Marketing mix)
10. Practice A Relationship-Based Selling (Selling)
11. Use A Spiritual Brand Character (Brand)
12. Service Should Have the Ability to Transform (Service)
13. Practice A Reliable Business Process (Process)
14. Create Value to Your Stakeholders (Scorecard)
15. Create A Noble Couse (Inspiration)
16. Develop An Ethical Corporate Culture (Cultere)
17. Measurement must be Clear and Transparent
Keempat
prinsip pertama menjelaskan lanskap bisnis syariah, sembilan prinsip
berikutnya (5-13) menerangkan sembilan elemen dari arsitektur bisnis
strategis, yang terbagi dalam tiga paradigma, syari’ah marketing
Strategy untuk memenangkan mind share, syariah marketing tactic untuk
memenangkan market-share, dan syariah marketing value untuk memenangkan
heart share. prinsip selanjutnya, menjelaskan syari’ah scorecard,
bermakna bahwa perusahaan harus terus-menerus menyeimbangkan proposisi
nilai yang sesuai dengan prinsip syari’ah kepada tiga stakeholders
utama, yaitu karyawan (people), pelanggan (customer), dan pemegang saham
(shareholders). Kemudian tiga prinsip terakhir, membahas soal
inspirasi, kultur, dan aktivitas (syari’ah enterprise). Sehingga
perusahaan yang berbasis syari’ah tidak hanya cukup memegang
prinsip-prinsip syari’ah tetapi juga ditantang untuk mampu memberikan
nilai tertinggi pada stakeholders perusahaan dengan tetap berpegang pada
nilai syari’ah.

Post a Comment