Topik utama dalam buku ini membahas tentang bagaimana
membangun kesadaran individu tentang motivasi hidup yang lebih tinggi
dan akan membawa perubahan pada lingkungannya dalam segala aspek
kehidupan. Kata kuncinya adalah “wealth” yang diterjemahkan penulis
sebagai factor yang membuat kita mampu meningkatkan kualitas hidup. Kita
sering berbicara tentang kekayaanbakat, karakter dan nasib baik, tetapi
dalam dunia modern, kekayaan itu bergeser menjadi kekayaan yang hanya bersifat material dan financial.
Modal
spiritual adalah sumber kekayaan yang membuat kita bisa bertahan hidup
yang menyentuh aspek paling mendasar dalam hidup kita. Pemahaman, nilai
dan motivasi tertinggi dalam manuysia terakumulasi dalam modal
spiritual. BAgi sebuah organisasi, modal spiritual adalah sebuah visi
dan model berkelanjutan dalam kerangka kepedulian terhadap komunitas dan
dunia sekitar. Praktek bisnis memiliki nilai filosofi tersendiri yang
bersentuhan dengan nasib kemanusiaan dan masa depan dunia secara
keseluruhan. Jika kita hanya mengeksploitasi sumbner daya alam tanpa
kendali, maka kita seperti membunuh diri sendiri dan menghancurkan alam.
Itulah alasan yang melatar belakangi kecemasan manusia terhadap
fenomena global warming dan climate change. Dunia terancam binasa karena
ulah manusia.
Penulias
membedakan sumber yang diperlukan untuk membangun kualitas hidup
manusia terdiri dari : modal material (bersumber Dario kecerdasan
rasional/IQ), modal social (bersumber dari kecerdasan emosional/EQ), dan
modal spiritual (keerdasan spiritual/SQ). IQ yang tinggi membuat kita
mampu berpikir, sedangkan EQ yang tinggi membuat kita peka dan EQ yang
tinggi membuat kita mengetahui siapa kita yang sebenarnya. Masing-masing
sumber dan modal itu memberikan kontribusi untuk membentuk jati diri
setiap individu.
Dengan
menggunakan teori complex adaptive system yang diadopsi dri ilmu
fisika, penulis menetapkan 12 prinsip perubahan yang terjadi dalam
tataran individu dan organisasi. Yaitu self awarness, spontaneity,
vision and value Ied, Holism, Celebration of diversity,
Field-indefendence, Asking why, reframe, positive use of diversity,
Humility, dan sense of vocation.
Penulis
membeberkan konsepnya dengan bahsa yang mudah dicerna dan menguraikan
sejumlah ilustrasi yang memperkuat pemahaman pembaca Selain itu, juga
disodorkan kerangka implementasi bagi proses perubahan yang dapat diukur
dalam diri setiap manusia atau lembaga.
Kualitas buku ini bisa terlihat dari pujian yang diungkapkan oleh para komentator seperti Peter Senge, Direktur MIT Center for Organizational Learning. Senge
menyatakan “Danar Zohar telah memperlihatkan pandangan radikal tentang
alam semesta yang dibentuk dari sains modern dapat menghubungkan kita
satu sama lain, dan alam, dan kesadaran diri dan lokasi. Spiritual
capital melanjutkan perjalanan mudik menuju fitrah, memperlihatkan kita
bisa menciptakan cara kerja dan cara hidup bersama berdasarkan
pengendalian kecerdasan spiritual dan pembangunan modal spiritual”.
Buku
ini ditulis oleh sepasang suami-istri Danar Zohar dan Ian Marshall.
Zohar adalah seorang ahli fisika yang keudian memperdalam filsafat dan
sehari-hari menjadi instruktur dalam pelatihan manajeman. Ia memberikan
kuliah global untuk perusahaan-perusahaan besar termasuk yayasan dan
organisasi pendidikan. Sementara Marshall adalah ahli psikiatri dan
psikoterapis. Sebelum menerbitkan buku ini, keduanya telah bekerjasama
menulis buku The Quantum Self, Rewiring the Corporate Brain, dan SQ:The
Ultimate Inteligence.
Untuk
menegaskan pentingnya membangun modal spiritual, penulis mengutip Jung :
“Dalam hidup kita yang paling pribadi dan paling subyektif, kita
bukanlah penonton pasif dari perjalanan umur kita. Kita bukanlah korban
semata, tetapi juga pembentuk hidup ini. Kita membuat kisah perjuangan
kita sendiri.” Perubahan terjadi karena tekad manusia bertemu dengan
izin Allah. Itulah esensi hidup kita yang sebenarnya.

Post a Comment