Brown
adalah penulis yang sama buat buku Davinci Code itu. Ceritanya lumayan
seru, berpaut antara dunia intelijen Amerika Serikat, intrik politik,
dan dunia teknologi informasi. Gaya bahasanya cepat, melompat-lompat
dari satu scene ke scene lain.
Tokoh utamanya Susan Fletcher,
kryptolog (pemecah sandi) NSA (National Security Agency), Trevor
Strathmore (wakil direktur NSA), David Becker (seperti biasa, ahli
bahasa). Kasus dimulai penetrasi software 'asing' ke dalam komputer
pemecah kode punya NSA, TRANSLTR. Awalnya dinyatakan, software tersebut
adalah program pembuat sandi yang tidak bisa dipecahkan.
Pembuatnya Ensei Tankado, bekas
karyawan NSA turunan Jepang yang protes oleh sebab TRANSLTR bisa membuka
sandi email milik publik. Tankado ini lalu membuat software yang ia
klaim tidak bisa dipecahkan kode buatannya oleh TRANSLTR. Strathmore,
wakil direktur NSA yang "sok' patriotis penasaran. Software tersebut
nekat ia masukkan ke dalam TRANSLTR meski Gauntlet (mesin screen) sudah
menyatakan itu virus.
Strathmore ini ambisius, ia mau
kuasai penggunaan software Tankado itu buat kepentingan NSA. Buntunya,
TRANSLTR berjuang berjam-jam untuk memecah kode yang terus berotasi.
Perbandingannya, jika memecah kode biasa, maka mesin tersebut cuma butuh
waktu 10 menit-an. Alkisah, Strathmore galau. Dipanggilah Susan buat
membantu pemecahan kode software 'virus' tersebut. Susan pun kewalahan,
sementara ia pun belum tahu kalau software Tankado itu sesungguhnya
virus yang kode pemecahannya ada di cincin Ensei Tankado.
Strathmore mengirim Hulogot,
pembunuh bayaran yang biasa ia pakai untuk pekerjaan kotor. Pembunuh itu
ditugasi mencari Ensei Tankado, membunuh, dan merampas cincin tersebut.
Tatkala Hulogot gagal, Strathmore lalu mengirim David Becker, pacar
Susan, yang menguasai aneka bahasa demi mendeteksi di mana keberadaan
cincin tersebut. Teka-teki harus dipecahkan Becker, yang berupa pemegang
cincin yang selalu berpindah. Pertama dari orang Jerman, Spanyol, dan
akhirnya sampai ke tangan anak punk Amerika yang tengah pelesir di
Spanyol.
Seluruh orang yang terlibat
pembicaraan seputar cincin denga Becker, pasti terbunuh. Hulogot
mengirim pesan pembunuhan itu kepada Strathmore melalui pager.
Strathmore baru menyadari kalau ia ditipu Tankado setelah tahu TRANSLTR
tidak bisa memecah kode. Ia juga menyadari, rekan Tankado bernama North
Dakota adalah fiktif. Ia adalah diri Tankado sendiri. Strathmore tadinya
merasa, ada orang lain (rekan Tankado) yang tahu di mana cincin
tersebut berada. Semua buyar. Strathmore ternyata malah merusak TRANSLTR
yang bernilai jutaan dollar itu demi sebuah virus.
Seperti biasa, pengarang menerapkan
semacam relativitas moral di dalam Benteng Digital ini. Peran 'baik'
dan 'buruk' ia tempatkan secara relatif. Persis seperti novelnya
Malaikat dan Iblis, di mana peran pendeta dan orang biasa diaduk-aduk,
sehingga batasan antara kebaikan dan keburukan menjadi nisbi. Itu jika
dipandang sebagai tujuan. Brown lebih berpandangan pada dimensi 'how'.
Tujuan baik jika dicapai dengan
cara buruk maka tujuan pun menjadi sama dengan cara. Di novelnya ini,
Brown banyak bicara mengenai dunia komputer. Mengenai basis bilangan
penyusun program, virus, worm, dan proteksi komputer muncul di sekujur
buku ini. Tampaknya, ada baiknya pecinta komputer baca buku ini untuk
sekadar berteka-teki. Selamat membaca.

Post a Comment