Semenjak 40 tahun yang lampau – waktu itu Bung Karno masih belajar di
Hogere Burgerschool (H.B.S.) Surabaya–beliau sudah mulai gemar
mengarang. Kegemaran itu bertambah lagi semasa beliau menjadi mahasiswa
Technische Hogeschool (T.H.S.) di Bandung. Kemudian datanglah zaman yang
dalam sejarah kehidupan Bung Karno dapat dianggap masa pencurahan
fikiran dalam karang-mengarang, yaitu semasa Bung Karno bersama-sama
dengan kawan-kawan sefaham beliau, mendirikan dan menggerakkan Partai
Nasional Indonesia (P.N.I.) dan Partai Indonesia (Partindo) serta semasa
beliau diasingkan ke Endeh dan akhirnya ke Bengkulen.
Suatu kenyataan sekarang ialah bahwa Bung Karno sendiri sama sekali tidak lagi menyimpan karangan-karangan tersebut.
Beberapa karangan yang telah dapat dikumpulkan semasa Bung Karno
mulai menjalankan hukuman pembuangan, terpaksa ditinggalkan dan kemudian
hilang tidak berketentuan karena tempat beliau yang sering
berpindah-pindah. Demikian pula sahabat-sahabat-karib beliau serta
perpustakaan¬-perpustakaan umum, tidak banyak yang menyimpan
karangan-karangan Bung Karno.
Dalam beberapa tahun terakhir ini, oleh perseorangan, pernah sebagian
dari karangan-karangan tersebut diterbitkan dalam bentuk brosur. Karena
mengingat bahwa buah fikiran Bung Karno–baik yang berbentuk sebagai
karangan maupun yang berupa pidato-pidato dari semenjak zaman penjajahan
hingga pada saat ini—belum pernah diterbitkan dalam bentuk yang
teratur. Sedangkan keinginan untuk itu oleh sahabat-sahabat-karib Bung
Karno serta oleh khalayak ramai berkali-kali diajukan kepada beliau.
Maka kami mendapat kepercayaan untuk menjalankan tugas tersebut.
Semenjak lima tahun yang lampau, kami telah berusaha sedapat-dapatnya
untuk menunaikan kewajiban tersebut sebaik-baiknya.
Dalam melaksanakan tugas tersebut ternyata tidak sedikit kesukaran
yang harus kami hadapi. Pada zaman penjajahan, untuk menyimpan
karangan-karangan para pemimpin pergerakan—terutama buah pena Bung
Karno—diperlukan keberanian bagi para penyimpannya. Lagi pula,
karangan-karangan Bung Karno tersebut tidak pernah ada dalam satu
tangan. Berdasarkan itulah, maka usaha pengumpulan ini tidak seluruhnya
dapat berhasil baik dan sempurna.
Selama lima tahun terus-menerus telah dilakukan hubungan dan
surat-menyurat dengan alamat-alamat di dalam dan di luar negeri dengan
pengharapan agar usaha pengumpulan buah-fikiran Bung Karno dapat lebih
diperlengkap. Walaupun mereka yang dihubungi selalu menunjukkan
kesediaan untuk memberi bantuan sebanyak mungkin, namun hingga pada saat
ini, belum juga diperoleh hasil untuk mengumpulkan buah pena Bung Karno
yang ditulis antara tahun 1917 hingga tahun 1925. Bahkan
karangan-karangan dalam tahun-tahun berikutnya pun masih ada beberapa
yang belum terkumpul. Ini berarti bahwa kumpulan buah-fikiran Bung
Karno—yang oleh beliau diberi nama “DI BAWAH BENDERA REVOLUSI”—belumlah
merupakan kumpulan yang lengkap dan sesempurna-sempurnanya.
Akan tetapi dengan pertimbangan—bahwa untuk menanti sampai
terkumpulnya seluruh buah-fikiran Bung Karno masih memerlukan waktu yang
lama—maka sebagai langkah pertama, buku:
“DI BAWAH BENDERA REVOLUSI” ini (terdiri dari dua jilid), kami
persembah¬kan kepada masyarakat Indonesia, dengan pengertian,
kekurangan¬-kekurangan yang terdapat dalam buku ini, mudah-mudahan dapat
disempurnakan dalam penerbitan lainnya. Patut dijelaskan bahwa Bung
Karno tidak mempunyai kesempatan penuh untuk membaca kembali seluruhnya
karangan-karangan beliau yang dimuat dalam buku ini.
Akhirulkalam, kepada semua fihak, baik di dalam maupun di luar negeri
serta handai-taulan yang hingga pada saat terbitnya buku ini de¬ngan
ikhlas telah memberikan sumbangan dan bantuan, dengan ini kami sampaikan
ucapan banyak terima kasih, karena dengan tiada bantuan itu maka
penerbitan “DI BAWAH BENDERA REVOLUSI” tidaklah mungkin selengkap
seperti sekarang ini.
Jakarta, 17 Agustus 1959
Panitya
K.Goenadi/H.Mualliff Nasution

Post a Comment