Apabila kita pergi bertamasya ke sebuah tempat, 10 Km di sebelah
utara kota
Serang, yaitu tempat yang dalam masa-masa sejarahnya terkenal dengan nama
Banten, maka akan tampaklah di sana-sini puing-puing bekas keraton,
benteng-benteng, toko-toko, meriam-meriam kuno, jembatan rante dan sebagainya.
Malahan di antara bangunan-bangunan lama itu ada pula yang masih tegak berdiri,
karena sudah mengalami beberapa perbaikan, yaitu Mesjid Agung dan menaranya yang
menjadi ciri khas bagi Banten Lama. Di serambi kiri dan kanan Mesjid Agung itu
terlihat barisan makam beberapa Sultan dengan maesan-maesannya yang berukiran
indah-indah.
Puing-puing serta bangunan-bangunan yang masih tegak berdiri
ditambah dengan lingkungan alam sekitarnya mau tidak mau akan merangsang
semangat dan pikiran kita yang menjalin kenang-kenangan Banten di masa lampau.
Masa Banten mengalami sejarah kebesarannya, masa Banten menghirup udara
kemakmuran dan kesejahteraan, masa Banten mengalami kejayaan dan kegemilangan,
masa Banten mengalami kedaulatan serta kemerdekaan penuh. Tiada juga terlepas
pikiran dan perasaan serta penghargaan kita kepada beberapa tokoh dan pengemudi
masyarakat di kala itu yang kini bersemayam di alam baka sebagai tersaksikan
pada makam-makam yang terukir indah-indah di samping kiri dan kanan mesjid
itu.
Tokoh sejarah kenamaan itu ialah salah seorang di antara
putera-putera Sultan Abdulma'ali Ahmad dari perkawinannya dengan Ratu
Martakusuma. Sultan Abdulma'ali Ahmad sendiri ialah putera Sultan Abulmafakhir
Mahmud Abdulkadir, seorang Sultan yang memerintah Banten antara 1596 M. - 1651
M. Jadi ia adalah kakek Sultan Ageng Tirtayasa. Sultan Abulmafakhir Mahmud
Abdulkadir itu karena kebijaksanaannya dalam pemerintahan, dan tambahan pula
seringkali menentang Kompeni Belanda, maka ia pun mendapat julukan Sultan Agung.
Menurut ceritera-ceritera sejarah, ibu Sultan Ageng Tirtayasa yang kenamaan itu,
adalah Ratu Martakusuma salah seorang puteri Pangeran Jakarta. Saudara-saudara
Pangeran Surya yang seibu dan seayah antara lain ialah Ratu Kulon, Pangeran
Kilen, Pangeran Lor dan Pangeran Raja. Sedang saudara-saudaranya yang hanya
seayah saja ialah Pangeran Wetan, Pangeran Kidul, Ratu Inten dan Ratu
Tinumpuk.
Sejak Sultan Abulfath Abdulfattah bertentangan dengan puteranya yang
bernama Sultan Haji itu atau Abunaser Abdulkahar, lagi pula telah mengundurkan
diri dari pemerintahan sehari-hari, maka ia pergi ke Tirtayasa dan mendirikan
keraton yang baru di tempat itu. Sejak bersemayam di tempat ini ia dikenal
dengan julukan Sultan Ageng Tirtayasa. Julukan inilah yang paling dikenal hingga
kini di kalangan masyarakat Banten dan demikian pula di kalangan bangsa asing
sebagaimana ternyata dari catatan-catatan sejarahnya. Sultan Ageng Tirtayasalah
yang dalam catatan-catatan bangsa Eropa, khususnya Belanda terkenal sebagai
musuh besar Kompeni Belanda.

Post a Comment