Buku Losing My Religion: A Call for Help adalah buku ketiga Prof. Jeffrey Lang setelah Struggling to Surrender dan Even Angels Ask yang juga sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. (Sayangnya, saya malah belum membaca buku-buku Prof. Lang yang pertama dan kedua ini). Di dalam terjemahan bahasa Indonesia, buku Losing My Religion: A Call for Help dijadikan ke dalam 2 jilid buku.
Isinya
berangkat dari keprihatinan Prof. Lang mengenai fenomena menjauhnya
kaum muslim kelahiran Amerika dan menghilangnya para mualaf dari masjid.
Terdapat gejala-gejala yang menunjukkan bahwa generasi muslim mendatang
(di Amerika) sedang teramerikanisasi. Mengapa agama Islam dijauhi dan
ditinggalkan?
Anak-anak muslim yang lahir di Amerika tumbuh dalam
benturan budaya Amerika dan subkultur masjid, dan bagi mereka sulit
untuk menangkap relevansi Islam dengan kehidupan nyata mereka. Benturan
ini semakin terasa karena anak-anak di sekolah terbiasa bertanya dan
menyanggah, sementara masjid-masjid sepertinya tidak mengakomodasi
berbagai pertanyaan yang muncul.
Buku ini memuat berbagai
pertanyaan yang muncul di benak generasi muda muslim, mualaf, dan
perempuan-perempuan muslim di Amerika, baik yang disampaikan melalui
surel (e-mail) maupun yang disampaikan langsung kepada Prof. Lang ketika
berceramah di suatu tempat. Pertanyaan-pertanyaan yang oleh pihak
masjid sepertinya tidak diperkenankan. Sedangkan bagi Prof. Lang,
bertanya adalah sah-sah saja. Dan bahkan malaikat pun bertanya! Yaitu
ketika Allah memberitahu para malaikat bahwa Allah hendak menjadikan
seorang khalifah di muka bumi.
Mempertanyakan sesuatu atau
bersikap kritis tampaknya memang merupakan sesuatu yang natural bagi
Prof. Lang, mengingat bahwa Prof. Lang adalah orang Amerika yang lahir,
besar, dan mendapatkan pendidikan di Amerika. Sebagai seorang yang masuk
agama Islam, Prof. Lang berangkat dari sejumlah pertanyaan, dan juga
sebagai seorang muslim Amerika mempunyai segudang pertanyaan sendiri.
Itu sebabnya mengapa Prof. Lang tampaknya peka terhadap
pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan oleh generasi muda muslim, para
mualaf, dan perempuan-perempuan muslim Amerika. (..eleuh.. eleuh.. sok tahu deh....)
Pendekatan
kritis dalam kehidupan beragama ini sesungguhnya menjadi masukan bagi
saya. Apalagi, terus terang, saya memang bukan orang yang kritis.
Pendekatan keberagamaan saya paling melalui pertanyaan "what's in store for me?" dan kemudian try to live by it (namanya juga try bisa berhasil bisa tidak..), meskipun rasanya saya juga tidak "pasrah-pasrah amat" dengan apa yang tersedia.
Membaca terjemahan Losing My Religion
ini menyadarkan tentang masalah yang dihadapi kaum muslim di Amerika,
yang rasanya juga dihadapi oleh kaum muslim di Indonesia dan berbagai
belahan dunia lainnya. Atau jangan-jangan, muslim di Indonesia
menghadapi masalah yang jauh lebih berat lagi?

Post a Comment