Edensor merupakan buku ketiga dari Tetralogi Laskar Pelangi. Buku ini
termasuk nominasi penghargaan nasional sastra KLA (Katulistiwa Literaly
Award) tahun 2007.
Buku yang sangat indah, sarat akan metafora-metafora kehidupan yang
menawan. Sang penulis berhasil memadukan sastra dengan science,
menjadikan buku ini sangat layak dibaca dan dimiliki.
“Murid-muridku, berkelanalah, jelajahi Eropa, jamah Afrika, termukan
mozaik nasibmu di pelosok-pelosok dunia. Tuntut ilmu sampai ke Sorbonne
di Prancis, saksikan karya-karya besar Antoni Gaudi si Spanyol.” (hal
34). Kalimat dari pak Balia, guru semasa SMA tersebut telah menghantui
Ikal dan Arai. Mendatangkan angan, mimpi serta harapan.
Tak sedikit orang hanya menjadikan mimpi sebagai angan-angan yang
seolah tak mungkin terjangkau, sehingga ia menyerah pada mimpinya,
melupakannya, dan tenggelam dalam rutinitas hidupnya. Tapi tidak untuk
Ikal dan Arai. Dari mimpi dan berkhayal, mereka mampu (dengan segala
daya upaya) memperoleh beasiswa Uni Eropa ke Universitas Sorbonne,
Prancis. Tidak hanya sampai di situ, mereka tetap memiliki mimpi untuk
menjelajahi dunia. Mereka melakukan perjalanan musim panas sebagai
bagpacker. Untuk membiayai perjalanannya mereka harus rela menjadi
pengamen seni, yaitu menampilkan seni patung dimana Ikal dan Arai
menjadi patung dan berdandan sebagai putri duyung. Perjalanan mereka
penuh tantangan, mereka menumpang kendaraan lewat, tidur di jalan-jalan,
bahkan ketika kehabisan uang, mereka harus makan daun-daunan mentah
untuk bertahan hidup. Belum lagi pengalaman dirampok dan hamper dibunuh.
Namun Ikal dan Arai tak pernah menyerah, mereka manusia yang hidup
dalam mimpinya. Hanya berbekal impian, keberanian dan tekad untuk
memenangkan taruhan, mereka akhirnya mereka mampu melakukan perjalanan
ke 42 negara di Eropa, Rusia hingga menjejakkan kakinya ke Afrika!
Selama perjalan tersebut, Ikal tak pernah lupa pada cinta pertamanya, A
Ling, yang entah dimana. Berbekal teknologi internet, ia mencari nama A
Ling di search engine dan mendatangi alamat-alamat yang mencantumkan
nama A Ling di setiap negara yang ia kunjungi.
Nilai filosofis buku ini sangat dalam, bahwa betapa apa yang kita
impi-impikan sebenarnya berada sangat dekat dengan kita, tanpa kita
sadari. Ikal justru menemukan edensornya, justru dalam kondisi
”keterpaksaan”, ketika dia harus memilih pindah dari Sorbonne, Prancis,
ke Sheffied, Inggris. Padahal dalam perjalanan selama musim panasnya,
Ikal sibuk mencari A Ling ke seluruh pelosok, dan tidak menemukan yang
dicari.
Bagi anda yang senang bermimpi, jangan takut! Tetaplah bermimpi, karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu…

Post a Comment