TIDAK banyak orang yang benar-benar memikirkan kaitan antara perempuan,
emosi, dan uang. Lewat buku ini, tiba-tiba kita ditelanjangi. Tidak
hanya perempuan, tetapi juga para laki-laki.
Dengan
cara penulisan yang ringan dan mengalir, Liz Perle menyodorkan fakta
tentang keterkaitan itu. Buku ini ditulis berdasarkan pengalaman,
ditunjang riset, hasil survei, dan penggabungan berbagai teori maupun
diskusi dengan para psikiater sampai pakar finansial.
Perle juga menggali jauh penyebabnya. Mulai dari pengaruh budaya patriarki
hingga ke partikel kecil yang menentukan, yaitu pendidikan dalam
keluarga. Semuanya mengalir alami sampai akhirnya akan membuat Anda
berpikir, “Oh itulah saya,” atau “oh, sekarang aku tahu mengapa temanku
atau saudaraku si A, B, C, dan seterusnya berbuat seperti itu.”
Inilah
salah satu buku yang sebaiknya dibaca kaum perempuan dan laki-laki.
Bagi laki-laki, buku ini bisa membantu memahami latar belakang perasaan
perempuan akan kebutuhan kenyamanan dan keterjaminan hidup yang sering
kali dikaitkan dengan uang.
Bagi
perempuan, buku ini bisa menjadi titik balik pencerminan diri. Melihat
laku sendiri kemudian melakukan tindakan yang tepat untuk memperbaiki.
Juga membantu memahami, mengapa sebagian besar perempuan suka
membelanjakan uang mereka untuk hal-hal yang terkadang dianggap tidak
berguna? Atau justru menabung dengan sangat di luar batas untuk
mengurangi kekhawatiran pada ketidakpastian masa depan?
Pada
akhirnya, pemahaman itu akan membawa perubahan. Tentu harapannya, para
laki-laki dan perempuan bisa mencapai titik pemahaman, saling
mengingatkan, dan membangun sebuah kehidupan yang lebih berkualitas.
Seperti
kalimat favorit Perle, dikutip dari Mark Twain, ‘Kebahagiaan adalah
menginginkan apa yang kau miliki dan bukan memiliki apa yang kau
inginkan. Harapan idealnya, manusia bisa menyeimbangkan antara tindakan
mengejar dan menghargai’.

Post a Comment