Sejarah mencatat, Sultan Ustmaniyah Murat III (1571-1595) dikenal
sebagai sultan yang paling tertarik pada buku dan seni miniatur. Di masa
kekuasaannya ia memerintahkan para miniaturis (pembuat ilustrasi buku)
kenamaan di negerinya untuk membuat Kitab Keterampilan, Kitab Segala
Pesta dan Kitab Kemenangan yang dikerjakan di Istanbul. Para miniaturis
Ustmaniyah yang paling menonjol, termasuk Osman sang Miniaturis dan
murid-muridnya, ikut andil dalam pengerjaan buku ini.
Penggalan
sejarah inilah yang oleh Orhan Pamuk (54 thn) - peraih nobel sastra 2006
asal Turki - dijadikan sebagai ide utama novel My Name is Red .
Dikisahkan saat itu Sultan menugaskan Enisthe Effendi salah seorang
miniaturis (pembuat ilustrasi buku) terkenal untuk membuat sebuah buku
rahasia yang dihiasi ilustrasi-ilustrasi indah untuk merayakan
kejayaannya. Tindakan sultan ini memotong jalur resmi dimana
biasanyaTuan Osman selaku Iluminator Kepala Istana yang diberi wewenang
untuk mengerjakan buku-buku Sultan. Dalam mewujudkan proyek sultan ini
Enisthe dibantu oleh empat miniaturis lainnya yang masing-masing dikenal
dengan julukan ; Elok, Zaitun, Bangau, dan Kupu-kupu.
Novel ini
diawali dengan terbunuhnya Elok , salah satu dari keempat miniaturis
yang bekerja dibawah pimpinan Enisthe Effendi. Pembunuhan ini
menimbulkan keresahan diantara para miniaturis lainnya karena mereka
mennganggap hal ini ada kaitannya dengan proyek pengerjaan buku Sultan
yang dibuat dengan gaya Eropa yang pada masa itu dianggap sebagai
penistaan terhadap ajaran Islam.
Lalu dikisahkan Hitam, salah
satu murid dan keponakan Enisthe kembali ke rumah pamannya sepulang
dari pengelanannya ke berbagai tempat selama dua belas tahun. Sejak lama
Hitam telah menaruh hati pada Shekure, putri “Enisthe”-nya. Sepulang
dari pengelanaannya pun ia masih menyimpan cintanya pada Shekure.
Sayangnya Shekure telah menikah dan mempunyai dua orang anak. Namun
belum pulangnya suami Shekure selama bertahun-tahun dari peperangan
membuka peluang bagi Hitam untuk merebut Shekure ke pelukannya.
Di
tengah usaha Hitam merebut cinta Shekure dan belum terungkapnya siapa
pembunuh Elok, Enisthe terbunuh secara mengenaskan. Namun hal ini tak
menghalangi niat Hitam untuk menikahi Shekure. Dengan siasat liciknya
akhirnya Hitam berhasil menikahi Shekure, namun Shekure belum
mengijinkan Hitam untuk tidur seranjang dengan dirinya hingga Hitam
berhasil menemukan siapa pembunuh ayahnya.
Ketika kematian Elok
dan Enisthe sampai ke telinga Sultan. Ia memerintahkan Hitam selaku
murid Ernisthe dan Tuan Osman selaku kepala bengkel miniaturis Istana
mengungkap siapa pembunuhnya. Mereka diberi waktu 3 hari untuk menemukan
pembunuhnya, jika gagal nyawa mereka dan para miniaturis lainnya akan
jadi gantinya.

Post a Comment