Bagi para peminat dan pembaca cersil (cerita silat) , mereka akan
menyebut kisah trilogi Pendekar Rajawali identik dengan nama Kim Yong
(Jin Yong/Chin Yung), juga tidak akan asing apabila disebutkan nama Ong
Touw Louw (Wang Dulu), yang menghanyutkan dengan cerita pentalogi kisah
petualangan pendekar Lie Bouw Pek, maka ketika disebutkan nama Nio Ie
Sheng (Liang YuSheng), para pecandu cerita silat akan serentak menunjuk
saga Thian San , sebagai masterpiece dari pengarang cersil yang satu
ini, Saga serial Thian-San disebut-sebut oleh para pecandu cersil
sebagai serial terpanjang dalam kisah cerita silat (terjemahan) yang
pernah ada.
Hoan Kiam Kie Tjeng (HKKT) yang akan kita
bahas ini , adalah satu dari rangkaian cerita dan sekaligus merupakan
kisah pembuka dari saga Thian-San karangan Liang YuSheng, di tanah air
oleh Oey Kim Tiang―atau lebih dikenal dengan O.K.T.― kisah HKKT
diterjemahkan dengan judul Sebilah Pedang Mustika, pernah diterbitkan
oleh PT. Mekar Djaya pada tahun 1959 terdiri dari tiga jilid. Rasanya
tidak perlu lagi diceritakan reputasi OKT dalam “menceritakan kembali”
berbagai cerita silat yang diterjemahkannya. Sastrawan dan ahli bahasa
Ajip Rosidi menulis, siapapun pengarangnya, apapun ceritanya, apabila
digarap oleh OKT, maka akan menjadi cerita khas dengan gaya OKT. Tapi
dalam tulisan ini penulis tidak bermaksud membahas mengenai kehebatan
OKT dalam menerjemahkan, tapi lebih kepada membahas isi cerita sebagai
pengantar bagi mereka para peminat cerita silat yang belum pernah
membaca atau pernah membaca tapi lupa akan isi dari cerita HKKT ini.
Untuk
kegembiraannya kalangan pembaca cerita silat tanah air, novel silat
terkenal ini telah diterbitkan ulang seperti apa adanya ketika pertama
kali diterbitkan 46 tahun yang lalu, hanya sedikit perbedaan untuk
ejaan, untuk terbitan tahun 2004/2005, penulisan dan ejaan telah
disesuaikan dengan ejaan Bahasa Indonesia yang disempurnakan, kecuali
untuk penulisan nama-nama dan istilah-istilah yang khas cerita silat,
dalam novel ini istilah-istilah tersebut masih tetap dipertahankan
dengan penulisan ejaan yang digunakan pada cetakan pertama 46 tahun yang
lalu.
Mengingat sekarang buku atau novel silat
terjemahan macam ini sudah termasuk barang langka dan susah ditemukan di
toko buku biasa, maka tak heran kalau penerbitan kembali HKKT di tahun
2004/2005 ini disambut dengan rasa gembira, walaupun masih ditujukan
untuk kalangan terbatas penggemar cerita silat, tapi sudah cukup sebagai
obat rindu dan nostalgia bagi mereka para penggemar cerita silat di
Indonesia.

Post a Comment